Cilacap adalah sebuah kota yang terletak di ujung Barat Laut Jawa Tengah. Merupakan kabupaten terluas yang ada di Jawa Tengah, dengan luas 2.385 km2 dan dihuni sekitar 1.888.129 jiwa (2018). Ikon kota ini adalah Bunga Wijayakusuma dan mottonya “Jala Bumi Wijayakusuma Cakti”, yang berarti “Kemampuan membudidayakan bumi, laut, air untuk kemakmuran“. Selama ini Cilacap dikenal dengan Pulau Penjara kelas kakapnya alias Pulau Nusakambangan. Tapi taukah warga Cilacap, sebenarnya ada hal lain yang menarik dari sekedar penjara di Pulau Nusakambangan ini?

Kisah ini berawal dunia Pewayangan, di ceritakan bahwa dulunya bunga ini adalah pusaka milik Sri Bathara Kreshna, putra dari Prabu Basudewa. Selanjutnya Sri Bathara Kresna menjadi Raja Dwarawati dipercaya merupakan titisan dari Sang Hyang Wisnu, dengan alasan itulah pusaka ini sangat istimewa, konon kekuatan dari pusaka ini adalah dapat menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal yang tidak sesuai takdirnya.

Sebelum akhirnya Sri Bathara Kreshna melakukan Moksa ke Swargaloka di Nirwana sana, pusaka ini dihanyutkan ke Laut Kidul, tepatnya di Karang Bandung. Lantas pusaka inipun menjelma menjadi bunga yang saat ini kita kenal dengan Wijayakusuma, yang artinya “wijaya” adalah kemenangan dan “kusuma” adalah bunga.

Atas dasar cerita itulah timbul kepercayaan di Kerajaan Mataram Kuno bahwa, Raja Mataram yang baru, belum sah diakui dan dinobatkan menjadi raja jika belum memetik bunga Wijayakusuma. Ritual itu bertujuan agar kebijaksaan dan keadilan Raja Kresna Dwarawati dapat diteruskan oleh Raja Mataram Baru. Selang beberapa waktu akhirnya Mataram Kuno terpecah menjadi empat, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Keraton Mangkunegaran dan Keraton Pakualaman. Dan hingga saat ini yang masih melakukan tradisi ritual tersebut ialah Kasunanan Surakarta.

Terdapat 2 genus berbeda dalam Wijayakusuma, pertama Wijayakusuma yang berjenis kaktus-kaktusan ( Epiphyllum Anguliger ) , dan Wijayakusuma yang berjenis semak/perdu ( Pisonia Grandis var. Silvestris ). Wijayakusuma yang sering kita lihat di pekarangan rumah/penjual tanaman dan dikenal oleh masyarakat umum adalah yang berjenis kaktus, Epiphyllum Anguliger merupakan tumbuhan yang berasal dari Venezuela, bukan tumbuhan asli Indonesia. Sedangkan Wijayakusuma yang ada di Nusakambangan adalah yang berjenis semak, Pisonia Grandis Silvestris. Jenis ini terdapat pula di Kepulauan Seribu, Karimun Jawa, Bali dan Madura. Namun yang pernah tercatat berbunga hanya di Bali, Karimunjawa dan Nusakambangan, tepatnya di Karang Bandung, Cagar Alam Wijayakusuma.

Lantas sudah tepatkah Bunga Wijayakusuma menjadi lambang dan ikon Kota Cilacap? Jika mengarah kepada namanya tentu benar, namun jika kita melihat kembali logo dan ikon Kota Cilacap adalah Wijayakusuma yang berjenis kaktus, sudah barang tentu kita bisa menyebutnya salah. Karena apa? Sesuai apa yang telah disebut diatas, Wijayakusuma yang berjenis kaktus bukanlah tumbuhan asli Indonesia, dan itu tidak mempresentasikan “kekeramatan” dan legenda panjang dibalik bunga Wijayakusuma yang ada di Nusakambangan. Bisa dibilang Wijayakusuma ( Pisonia Grandis Silvestris ) sudah kehilangan “aji” nya di tempat ia tumbuh.

Lalu bagaimana jika selama ini kita sudah salah kaprah dalam menentukan simbol dan ikon Kota Cilacap?
Karena seperti yang kita tahu, simbol dan ikon adalah hal yang sangat penting, karena dari ikon itulah sebuah kota di representasikan, yang akan selalu orang ingat dan terpatri di pikiran mereka.

Tentu ini menjadi PR kita bersama, apakah kita akan melanjutkan sebuah kesalahan yang sudah terlanjur, ataukah merubah dan merevisi ikon Kota Cilacap tercinta ini?

Sekian, Terima Kasih,
Faisal Abdullah
9/9/19